KARTU PLASTIK

Kartu Kredit, Kartu Debet, Kartu Isi Ulang, Pilih Mana?

Artikel Kartu Plastik

Artikel yang Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Semester Genap Ganjil/2008

Oleh:

Hendriyadi

NIM 023070127

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta 200

FUNGSI uang kontan sebagai alat bayar semakin tergantikan dengan kartu plastik. Akibatnya, kartu-kartu plastik semakin mendominasi dompet masyarakat perkotaan selain kartu tanda penduduk. Cobalah tengok dompet kawan Anda. Selain kartu tanda penduduk atau kartu surat izin mengemudi, ada berapa kartu plastik di dalamnya? Umumnya, sebagian besar mengantongi kartu kredit, kartu ATM, atau kartu debet. Selain kartu ATM yang saat ini hampir dimiliki oleh setiap nasabah perbankan, kartu plastik jenis lain, yaitu kartu debet, juga semakin banyak digunakan. Belakangan ini, pertumbuhan kartu debet bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kartu kredit. Bank-bank semakin gencar memanjakan nasabahnya, tidak cukup hanya dengan kartu kredit atau kartu ATM, tetapi juga kartu ATM yang dapat berfungsi sebagai kartu debet. Berbelanja dengan kartu debet memang lebih praktis karena tak perlu membawa setumpuk uang kontan dengan risiko kecopetan. Tidak juga perlu takut terkena denda dan bunga jika lupa membayar tagihan seperti yang sering terjadi pada para pemegang kartu kredit yang kadang lalai membayar tagihannya. Selain itu, biaya administrasinya juga lebih murah dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memiliki kartu kredit. Secara global, volume transaksi kartu debet Visa, misalnya, telah melewati jumlah volume kartu kredit. Menurut data dari Visa, pada akhir tahun 2003, volume kartu debet Visa di dunia meningkat 17 persen daripada tahun sebelumnya dan mencapai 1,48 triliun dollar AS. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan sebesar lima persen dalam volume kartu kredit yang sebesar 1,45 triliun. Adapun di Indonesia sendiri pada kuartal pertama tahun 2004 penggunaan kartu debet Visa sebesar 30 juta dollar AS atau meningkat 107 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Sebenarnya tidak ada pergeseran penggunaan kartu kredit dengan kartu debet. Keduanya saling melengkapi. Di negara-negara maju, setiap orang memiliki kedua jenis kartu ini. Kalau kartu debet biasanya digunakan untuk membayar langsung pembelanjaan yang jumlahnya sedikit atau barang sehari-hari, sedangkan kartu kredit untuk pembelanjaan dalam jumlah besar, misalnya barang elektronik,” kata Country Manager Visa International Indonesia Ellyana C Fuad. Ia mengatakan lebih lanjut, pangsa pasar kartu debet sangat besar karena persyaratan yang diperlukan agar seseorang dapat memiliki kartu debet sangat mudah dan ringan, tidak diperlukan persyaratan yang rumit seperti kartu kredit. Dengan membuka rekening di bank, orang dapat memiliki kartu debet. Lagi pula, uang milik pemegang kartu telah tersedia sehingga bank tinggal mengurangi saja jika ada pembelian oleh si nasabah. “Di Indonesia, jumlah pemilik rekening bank sekitar 60 juta dan mereka memenuhi syarat untuk dapat memiliki kartu debet,” kata Ellyana lagi. Riset yang diadakan Visa di AS menyatakan adanya peningkatan penggunaan kartu debet. Dalam riset tersebut ditemukan 43 persen pelanggan memilih menggunakan kartu debet sebagai alat pembayaran dibandingkan dengan 30 persen yang memilih menggunakan kartu kredit dan 22 persen dengan uang tunai. Sementara itu, untuk pembelian 20-50 dollar AS sebanyak 45 persen responden memilih menggunakan kartu debet. Untuk pembelanjaan sebanyak 51-100 dollar AS, 41 persen responden juga memilih menggunakan kartu debet. Untuk pembelian di atas 100 dollar AS, 49 persen responden lebih memilih menggunakan kartu kredit untuk alat pembayarannya. Ellyana menambahkan, di Indonesia Visa International telah bekerja sama dengan tujuh bank untuk menerbitkan kartu debet. Dalam waktu dekat ini, jumlah bank itu akan bertambah, tetapi Ellyana belum mau mengungkapkan bank mana saja yang akan menerbitkan kartu debetnya. Dari sisi bank, seperti Bank Permata, pendapatan yang didapatkan dari penerbitan kartu debet ada beberapa jenis. Seperti pendapatan dari biaya administrasi kartu Permata Visa Electron secara bulanan, biaya bulanan e-Wallet, pendapatan interchange atau pendapatan biaya transaksi penggunaan kartu di merchant, serta fee di jaringan ATM plus. Tidak hanya kartu debet yang biasanya digesek setelah bertransaksi. Selain kartu kredit dan kartu debet, Bank Permata juga menerbitkan kartu prabayar sebagai pengganti uang tunai dan dapat digunakan sebagai kartu debet. Menurut Dian Soerarso GM Sales Distribution Channels and Liabilities Product dari Bank Permata mengatakan, jumlah pemegang kartu debet di Bank Permata sebanyak 600.000 dan lebih dari 100.000 merupakan pemegang kartu e-Wallet. Adapun pertumbuhannya diharapkan dapat mencapai 75 persen hingga 100 persen pada tahun 2004 ini. “E-Wallet ini dapat digunakan sebagai kartu debet dan dapat digunakan bertransaksi di ATM, termasuk transaksi pembayaran. Uniknya, pemegang kartu tak perlu membuka rekening di bank, cukup membeli kartu perdana. Saldo kartu dapat diatur sesuai dengan kebutuhan hingga maksimum Rp 5 juta,” katanya. Kartu isi ulang ini juga dapat menjadi hadiah yang menarik dan berguna. Dana yang mengendap di e-Wallet ini tidak diberikan bunga. TIDAK hanya perbankan konvensional yang memberikan layanan kartu-kartu plastik ini kepada para nasabahnya. Perbankan syariah pun telah mulai meluncurkan kartu plastik. Bank Internasional Indonesia (BII), misalnya, telah mengeluarkan kartu BII Syariah Card yang sesuai dengan prinsip ekonomi syariah yang universal. “Sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional, akad yang digunakan dalam penyelenggaraan BII Syariah Card adalah akad qordh dan kafalah,” kata Direktur Sumber Daya Manusia, Hukum dan Riset BII, Sukatmo Padmosukarso. Akad qordh merupakan prinsip utang piutang dan dalam prinsip syariah tak boleh dikenakan bunga atau denda atas utang tersebut, sedangkan kafalah merupakan prinsip perwakilan. Artinya, pada saat bertransaksi pemegang kartu bertindak mewakili bank untuk bertransaksi dengan merchant. Sukatmo menjelaskan lebih jauh, perbedaan dengan kartu kredit konvensional, kartu Syariah ini bebas bunga. “Penggunaannya seperti kartu kredit, tetapi tidak ada pembayaran minimum seperti kartu kredit. Begitu jatuh tempo, tagihan harus dilunasi seluruhnya, tidak boleh dicicil. Kartu ini juga tak boleh digunakan untuk membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan syariah seperti minuman keras,” ujarnya. Pertama kali, BII mengeluarkan BII Syariah Card Gold dan belakangan mengeluarkan lagi Platinumnya. BII Syariah Card telah mengacu pada fatwa MUI yang menyatakan, jangan sampai keberadaan kartu semacam ini mendorong konsumerisme. “Kami sengaja masuk ke segmen gold sehingga pemegang kartu BSC adalah orang yang betul-betul mampu memegang dan dapat menggunakannya secara bijaksana dan sekaligus sehingga tidak ada kredit macetnya,” lanjut Sukatmo. BII juga melebarkan produk kartunya menjadi platinum karena pangsa pasar platinum di perbankan syariah sangat luas. Indikatornya, menurut Sukatmo, adalah pengajian di kawasan elite, seperti Pondok Indah, Menteng, dan Kemang, tarawih di hotel berbintang lima, serta para jemaah haji ONH plus yang dianggap menjadi pangsa pasar potensial dari kartu kredit platinum. Lapisan masyarakat inilah yang dibidik menjadi nasabah pemegang kartu BII Syariah Card Platinum. Walaupun terbatas, segmen kartu platinum ini memiliki daya beli yang sangat tinggi daripada segmen kartu silver atau gold. Pagu kredit yang diberikan kepada para pemegang kartu platinum ini sekitar 40 persen dari pendapatan dengan kisaran pagu Rp 8 juta hingga Rp 50 juta. Ellyana mengatakan, memang pangsa pasar kartu kredit platinum memang sangat besar dan belum tergarap. “Saat ini pemegang kartu kredit platinum sekitar 20.000 dan pangsa pasarnya diperkirakan satu juta orang. Saat ini baru ada empat bank yang menerbitkan kartu platinum, yaitu Citibank, ANZ Panin, Mega, dan HSBC,” kata Ellyana. HSBC yang baru menerbitkan kartu platinumnya untuk nasabah kalangan terbatas menargetkan akan menjaring 5.000 pemegang kartu hingga akhir tahun ini. Untuk tahap pertama, HSBC hanya akan memberikan kartu platinum ini untuk nasabah terpilihnya. Barulah pada tahun 2005 kartu platinum ini dipasarkan secara lebih luas lagi. “Targetnya adalah nasabah yang memiliki penghasilan Rp 500 juta per tahun,” ujar Ichsan Tobing, Vice President Card Marketing HSBC. Dimulainya peluncuran kartu platinum ini tahun depan, menurut Ichsan, karena memerlukan persiapan yang lebih lanjut lagi. Sementara itu, Dina Sutadi, Assistant Vice President Corporate Communications Division Head Bank Niaga, juga menunjukkan optimismenya mengenai perkembangan kartu kredit. Bank Niaga menargetkan pertumbuhan kartu kreditnya 100 persen dibandingkan dengan tahun 2003. Pada semester pertama tahun 2004 ini, jumlah pemegang kartu kredit aktif Bank Niaga mencapai 130.000 orang dengan pangsa pasar di Indonesia sekitar lima persen. Sekarang tinggal sesuaikan dengan kebutuhan Anda, mau menggunakan kartu kredit atau kartu debet karena kedua jenis kartu ini dapat saling melengkapi.(anastasia joice). Update terakhir ( Jum’at, 21 December 2007 ) Uang Plastik, Electronic Fund Transfer, dan Kliring Elektronik Belakangan ini masyarakat perkotaan di Indonesia mulai terbiasa untuk menggunakan alat pembayaran non tunai untuk berbagai keperluan pembayaran, antara lain kartu kredit, kartu debet, kartu ATM dan kartu prabayar. Penggunaan kartu prabayar diyakini akan menjadi trend mekanisme pembayaran di masa mendatang, misalnya untuk membayar bahan bakar di pompa bensin, tiket tol, pembelian barang dan berbagai jasa-jasa lainnya. Kartu Plastik Semua proses aktivitas pembayaran melalui berbagai jenis alat pembayaran ini diproses oleh berbagai penyelenggara sistem pembayaran seperti bank dan nonbank. Institusi inilah yang nantinya menyelenggarakan jasa mulai proses pengiriman dana, kliring hingga settlement. Pemakaian kartu prabayar dalam mekanisme transaksi adalah bagian dari evolusi alat pembayaran dari uang tunai sampai ke bentuk-bentuk non-tunai. Misalnya alat pembayaran dalam bentuk kertas (paper based) seperti cek, wesel, bilyet giro hingga ke elektronik seperti kartu prabayar hingga ke wujud digital (digital cash). Jumlah kartu plastik (Kartu Kredit, ATM, Debit, dan pra bayar) di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, seperti yang dilaporkan oleh Bank Indonesia pada tabel di bawah ini. Sampai bulan Juli 2007 tercatat 54 bank yang menerbitkan kartu ATM dan 21 penerbit kartu kredit yang terdiri atas perbankan, lembaga selain bank dan unit usaha syariah bank. Jumlah bank yang menerbitkan kartu ATM sekaligus kartu debit tercatat sebanyak 37 bank. Sedangkan kartu prabayar baru diterbitkan hanya oleh dua nama penerbit yaitu Telekomunikasi Indonesia dan Telekomunikasi Selullar. Peredaran dan penggunaan kartu tersebut juga melibatkan empat prinsipal kartu kredit dan tiga perusahaan pengelola switching. Infrastuktur Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) pun semakin meningkat, yang meliputi terminal ATM, Merchant, EDC, dan Imprinter. Sejalan dengan perkembangan teknologi, instrumen pembayaran khususnya yang menggunakan kartu (APMK) juga tumbuh dengan pesat. Tidak saja dari volume dan nilai yang ditransaksikan namun juga dari fitur, jenis, fungsi serta berbagai fasilitas yang diberikan kepada pemegang kartu. Menurut Bank Indonesia (2007), jenis APMK yang ada saat ini meliputi Kartu Kredit, Kartu ATM dan Kartu ATM yang berfungsi sekaligus sebagai Kartu Debit (ATM+Debit). Volume transaksi jenis APMK tersebut pada triwulan II-2007 tercatat 298,65 juta atau meningkat 8,04% dibanding triwulan sebelumnya. Sedangkan dari sisi nilai mencapai Rp419,86 triliun, meningkat 19,68% dari triwulan sebelumnya. Peningkatan transaksi tersebut didominasi oleh jenis transaksi transfer dana pada kartu ATM dan ATM+Debit. Pada triwulan ini mucul pula jenis instrumen pembayaran baru yakni kartu prabayar. Kartu ini digunakan untuk jenis pembayaran yang bersifat kecil (micropayment), karena batasan nominal yang ada pada kartu tersebut adalah satu juta rupiah dan dapat diisi kembali setelah digunakan. Mengingat jenis kartu ini masih relatif baru, aktivitas transaksi yang tercatat masih sangat kecil, dimana volume transaksi tercatat 16,73 ribu dengan nilai transaksi Rp210,41 juta (Bank Indonesia, 2007). Angka-angka di atas menunjukkan bahwa peranan E-banking dalam meningkatkan layanan transaksi semakin meningkat. Peningkatan jumlah kartu plastik berserta jumlah dan nilai transaksinya merupakan salah satu indikator mulai tumbuhnya less-cash society atau masyarakat digital di Indonesia. Indikator tersebut terkait langsung dengan kegiatan transaksi yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri sesuai dengan sumber daya keuangannya yang tersimpan dalam atau dilewatkan melalui lembaga perbankan. Atau dengan kata lain, indikator tersebut merupakan hasil dari transaksi individual nasabah bank yang berada di sisi ”front end”. Bagaimana dengan transaksi antar lembaga sendiri yang dari kaca mata masyarakat- khususnya nasabah bank, merupakan layanan E-Banking yang berada di sisi ”back end”? Real Time Gross Settlement Sejak tahun 2000, Bank Indonesia memperkenalkan kepada stakeholder yakni perbankan nasional apa yang disebut real time gross settlement (RTGS). BI-RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi dan bersifat real time. Melalui mekanisme BI-RTGS ini rekening peserta dapat didebit dan dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Setidaknya ada tiga alasan pokok mengapa BI memakai settlement melalui RTGS. Alasan pertama, jika membuka kembali literatur dan merujuk hasil studi empiris, ada semacam kesadaran baru dari bank-bank sentral di seantero jagad ini untuk mengelola Large Value Transfer System (LVTS). Sistem BI-RTGS dapat mengurangi risiko sistemik. Yang dimaksud dengan risiko sistemik adalah risiko kegagalan salah satu peserta dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Kegagalan bayar ini akan membuat peserta bank lain juga ikut terancam. Bahkan dalam situasi ekstrem, gagal bayar ini berpotensi memicu kesulitan finansial yang lebih luas yang dapat mengancam stabilitas sistem pembayaran. Alasan kedua, melalui sistem RTGS dapat mengurangi timbulnya float yang diharapkan dapat menyokong efektifitas pengawasan perbankan. Pada sisi lain dengan pengelolaan likuiditas yang baik di sektor perbankan juga akan membantu efektifitas kebijakan moneter. Alasan ketiga, sistem RTGS membuka peluang integrasi dengan berbagai aplikasi sistem pembayaran. Sebut saja seperti pasar uang dan pasar modal yang menganut prinsip Delivery versus Payment (DVP) atau bisa juga melakukan transaksi secara cross border payment melalui Payment versus Payment (PVP). Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai melalui aplikasi sistem BI-RTGS, antara lain dengan BI-RTGS transfer dana antar peserta lebih cepat, efisien, andal dan aman. Selain itu setidaknya ada kepastian settlement dengan lebih segera. Sistem BI RTGS ini akan memperlihatkan informasi rekening peserta secara real time dan menyeluruh. Bagi peserta RTGS juga dituntut untuk disiplin dan profesional dalam mengelola likuiditas mereka. Dan diharapkan melalui sistem RTGS ini akan mengurangi berbagai risiko settlement. Saat ini aplikasi sistem BI-RTGS sudah berjalan di semua Kantor Bank Indonesia (KBI) di seluruh Indonesia. Sudah ada 148 peserta BI-RTGS yang terdiri atas 125 bank konvensional, 21 bank syariah/UUS dan dua peserta non-bank. Indonesia adalah negara kedelapan di Asia yang mengaplikasikan RTGS. Sedangkan di dunia baru ada 30 negara yang mengaplikasikannya. Jumlah dan nilai transaksi RTGS menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Bank Indonesia (2007) melaporkan bahwa komposisi nilai penyelesaian transaksi sistem pembayaran masih didominasi oleh sistem BI-RTGS. Selama triwulan II-2007 penyelesaian transaksi sistem BI-RTGS mencapai 93,09% dari total nilai transaksi, sementara melalui sistem kliring mencapai 3,15% dan sisanya melalui sistem yang dilaksanakan di luar Bank Indonesia. Penyelesaian transaksi melalui sistem RTGS dan kliring yang telah mencapai 96% tersebut dipandang telah mampu mendukung kestabilan sistem keuangan dalam memitigasi risiko gagal bayar transaksi sistem pembayaran. Dengan demikian, transaksi pembayaran di Indonesia yang belum ter-cover risikonya hanya sekitar 3,76%. Meski nilainya kecil, Bank Indonesia berusaha memitigasi risiko melalui penerapan rambu-rambu yang memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen. Kliring Elektronik Sebagaimana diketahui, sebelum settlement melalui RTGS diperkenalkan ke publik, ada settlement lain yang lazim dipakai yakni melalui sistem kliring. Metode yang dipakai sistem kliring berbeda jauh dengan RTGS. Sistem kliring menggunakan metode net settlement dalam rangka penyelesaian akhir. Net settlement adalah adalah proses penyelesaian akhir transaksi-transaksi pembayaran yang dilakukan pada akhir suatu periode dengan melakukan apa yang disebut off-setting antara kewajiban-kewajiban pembayaran dengan hak-hak penerimaan. Data terakhir transaksi kliring pada triwulan II-2007 mengalami sedikit kenaikan dibanding triwulan sebelumnya. Nilai transaksi selama triwulan laporan tercatat sebesar Rp 333,2 triliun, naik 1,1% dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar Rp329,6 triliun. Dari sisi volume juga mengalami kenaikan sebesar 2,72%, dari 19,3 juta transaksi menjadi 19,9 juta transaksi. Pada tahun 2007 ini Bank Indonesia telah memperluas implementasi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia di 18 wilayah kliring non Bank Indonesia. Dengan demikian, hingga akhir triwulan II-2007, wilayah yang telah mengimplementasikan SKNBI berjumlah 65 wilayah yang terdiri atas 37 wilayah KBI dan 28 wilayah non KBI. Nilai transaksi pemindahan dana yang bersifat “back end” dari sisi pespektif nasabah tersebut menunjukkan bahwa lalu lintas uang di Indonesia sudah bersifat paperless- dengan nilai transaksi yang secara drastis meningkat tajam. Sebagai contoh, nilai BI-RTGS meningkat lebih dari 1000 triliun rupiah dalam 12 bulan terakhir atau meningkat lebih dari 60 persen. Sedangkan transaksi kliring meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Transaksi digital dengan nilai yang sangat besar tersebut tentunya memerlukan teknologi tinggi yang handal dan teruji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: