Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Setelah membahas mengenai sistem informasi manajemen pendidikan secara parsial kemudian akan dikemukakan beberapa sistem informasi manajemen secara umum menurut beberapa ahli berikut :

Gordon B. Davis, 1995 bahwa sistem informasi manajemen merupakan sebuah sistem manusia dan mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Soetedjo Moeljodihardjo, 1992, sistem informasi manajemen yaitu suatu metode yang menghasilkan informasi yang tepat waktu (timely) bagi manajemen tentang lingkungan ekstemal dan operasi internal sebuah organisasi, dengan tujuan untuk menunjang pengambilan keputusan dalam rangka memperbaiki perencanaan dan pengendalian. Komarudin,1997, sistem informasi manajemen adalah suatu sistem informal yang memungkinkan pimpinan organisasi mendapatkan informasi dengan kuantitas dan kualitas yang tepat untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

Robert W Holmes, 1992, sistem informasi manajemen adalah sistem yang dirancang untuk menyajikan informasi pilihan yang berorientasi kepada keputusan yang diperlukan oleh manajemen guna merencanakan, mengawasi, dan menilai aktivitas organisasi yang dirancang dalam kerangka kerja yang menitik beratkan pada perencanaan keuntungan, perencanaan penampilan, dan pengawasan pada semua tahap.

Roberl G. Murdick,1995, sistem informasi manajemen adalah proses komunikasi di mana input direkam, disimpan, dan diambil kembali untuk menyajikan keputusan yang berbentuk output mengenai perencanaan, pengoperasian, dan pengendalian. Joseph F Kelly, 1990, sistem informasi manajemen merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang berlandaskan komputer yang menghasilkan kumpulan penyimpanan, perolehan kembali, komunikasi, dan penggunaan dan untuk tujuan operasi manajemen yang efisien dan bagi perencanaan bisnis. Raymond McLeod, Jr, 2003 sistem informasi manajemen adalah sebuah sistem berbasis computer yang menyediakan informasi untuk kebutuhan bagi pemakainya.

James A.F. Stoner, 1992, sistem informasi manajemen adalah metode yang formal yang menyediakan bagi pihak manajemen sebuah informasi yang tepat waktu, dapat dipercaya, untuk mendukung proses pengambilan keputusan bagi perencanaan, pengawasan, dan fungsi oprasi sebuah organisasi yang lebih efektif.

Dengan demikian sistem informasi manajemen pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan bidang pendidikan.
Pengertian lain sistem informasi manajemen pendidikan adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan dalam rangka mendukung pengambilan keputusan bidang pendidikan

Untuk menerapkan sistem informasi manajemen pendidikan yang terpadu dan memiliki kapabilitas dalam mendukung keberhasilan dunia pendidikan diperlukan keseimbangan sumber daya yang tersedia antara ketersediaan sumber daya yang dimiliki keterampilan dalam mengoperasikan teknologi informasi seperti komputer dan ketersediaan dana untuk pengadaan perangkat komputer yang sudah semakin canggih. Di pihak informasi yang disajikan oleh sistem informasi manajemen pendidikan dapat diharapkan nantinya akan memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses pengambilan keputusan bidang pendidikan seperti informasi kebutuhan tenaga pendidikan, informasi jumlah lembaga pendidikan mulai tingat dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Sistem informasi manajemen pendidikan diharapkan sangat bermafaat tidak hanya bagi para pengambilan keputusan bidang pendidikan tapi berguna bagi masyarakat sebagai salah satu sub sistem dan control society terutma dalam proses operasional lembaga pendidikan dan penyajian kualitas jasa pendidikan yang bisa dipertanggung jawabkan.

MEMAKNAI IDUL ADHA

MEMAKNAI IDUL ADHA

Oleh : M. Miftakhuddin, SEI.,

Anjuran Untuk Berqurban

Secara lughot/bahasa kata Qurban berasal dari bahasa Qorruba yang berarti mendekat. Secara sosiohistoris qurban merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta dalam rangka mendekatkan diri dalam bentuk penyerahan benda (hewan), seperti penyembelihan hewan. Dalam Islam qurban adalah penyembelihan binatang guna ibadah kepada Allah pada hari raya haji dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Qurban sendiri dalam Islam adalah suatu ibadah yang dilakukan dalam rangka melaksanakan perintah Allah yang berupa penyembelihan hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah dengan niat ikhlas untuk senantiasa mendekatkan diri dan mengharap keridloaan-Nya. Perintah untuk berkurban telah dijelaskan dalam Al-qur’an surat Al-kautsar :

 “Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al-kautsar: 1-3)

Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majjah juga dijelaskan perintah untuk berqurban. “Dari Abi Hurairah, Rasulullah telah bersabda: “Barang siapa yang telah mampu (kaya) tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat sholat kami”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah). Dalam ayat dan hadits tersebut menunjukkan adanya perintah untuk  berqurban.

Hukum Berqurban

Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib dan sebagian lagi berpendapat qurban hukumnya sunnah.

Wajib. Yang berpendapat wajib didasarkan pada surat Al-kautsar dalam kalimat wanhar yang artinya berqurbanlah dan berdsarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majjah yaitu bagi orang yang mampu (kaya).

Sunah. Dasar yang dijadikan alasan qurban hukumnya sunnah adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Rasulullah bersabda : “Saya disuruh menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu”. (HR. Tirmidzi). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Daruquthni, Rasullah bersabda : “ Diwajibkan kepadaku berqurban dan tidak diwajibkan atas kamu”. (HR. Daruquthni). Dalam kedua hadits tersebut ada pernyataan yang menunjukkan tidak diwajibkan untuk berqurban akan tetapi sunnah hukumnya (Rasyid, dalam buku Fiqh Islam).

Implikasi Ibadah Qurban

Penyembelihan hewan qurban yang dilaksanakan setiap setahun sekali yaitu pada hari raya idul adha dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah) sebagai bentuk rasa syukur, ketaatan dan pengabdian kepada Allah yang semata mata ikhlas dilakukan untuk mengharap keridloan-Nya. Di iringi rasa ikhlas kemudian membagikan daging hasil pemotongan hewan tersebut kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Hal ini senantiasa bukan untuk mencari pujian dan sanjungan semata tetapi sebagai wujud kepedulian dan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Allah tidak melihat seberapa besar hewan atau berapa banyak daging yang qurbankan dan dibagi-bagikan, melainkan Allah melihat seberapa besar ketaqwaan kita kepada-Nya. Firman Allah dalam surat Al-Hajj (22): 37 yang artinya :”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridhoan) Allah, tetapi dari ketaqwaan kamulah yang dapat mencapanya”.

Dengan berqurban akan mengajarkan kita untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat yang kita rasakan dan mengajarkan kita untuk selalu berbagi kepada yang lain atas nikmat yang kita terima. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya :”Jika kamu bersyukur maka Aku tambahkan nikmat bagimu, dan Jika kamu ingkar sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”.

Sebagai akibat dari semua itu akan lahirlah rasa saling peduli dan saling memperhatikan antara sesama masyarakat khususnya sesama muslim, hilang kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin. Orang yang mampu (kaya) memberikan atas kelebihan rizqi berupa daging qurban sehingga orang yang kurang mampu bisa ikut mersakan nikmatnya atas rizqi yang mampu. Rasa saling peduli akan melahirkan kekuatan ukhuwah yang solid dan kuat, akan juga melahirkan rasa saling mencintai yang nantinya akan meninbulkan kesamaan persepsi yaitu rasa saling tolong menolong antar sesama. Sebagainama dijelaskan dalam hadits Nabi yang artinya :”Orang mukmin yang satu dengan yang lain adalah ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama yang lainnya”. Terciptanya komunitias yang kokoh dan kuat akan menjadi kekuatan yang tidak mudah dihancurkan oleh kekuatan musuh (yang akan menghancurkan agama). Disinilah nilai-nilai yang diharapakan terkandung dalam ibadah penyembelihan hewan qurban yaitu terciptanya jalinan ukhuwah dan silaturahim yang kokoh. Wallahu a’lam bi as-showab.

Referensi

Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap), Penerbit At-Thahiriyah, Jakarta, t.th, hal. 447-450.

Zuhdi Masjfuk, Masail Fiqhiyah (Kapita Selekta Hukum Islam), Gunung Agung, Jakarta, 1997.

MEMAKNAI IDUL ADHA

Oleh : M. Miftakhuddin, SEI.,

 Anjuran Untuk Berqurban

Secara lughot/bahasa kata Qurban berasal dari bahasa Qorruba yang berarti mendekat. Secara sosiohistoris qurban merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta dalam rangka mendekatkan diri dalam bentuk penyerahan benda (hewan), seperti penyembelihan hewan. Dalam Islam qurban adalah penyembelihan binatang guna ibadah kepada Allah pada hari raya haji dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Qurban sendiri dalam Islam adalah suatu ibadah yang dilakukan dalam rangka melaksanakan perintah Allah yang berupa penyembelihan hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah dengan niat ikhlas untuk senantiasa mendekatkan diri dan mengharap keridloaan-Nya. Perintah untuk berkurban telah dijelaskan dalam Al-qur’an surat Al-kautsar :

 “Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al-kautsar: 1-3)

Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majjah juga dijelaskan perintah untuk berqurban. “Dari Abi Hurairah, Rasulullah telah bersabda: “Barang siapa yang telah mampu (kaya) tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat sholat kami”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah). Dalam ayat dan hadits tersebut menunjukkan adanya perintah untuk  berqurban.

Hukum Berqurban

Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib dan sebagian lagi berpendapat qurban hukumnya sunnah.

Wajib. Yang berpendapat wajib didasarkan pada surat Al-kautsar dalam kalimat wanhar yang artinya berqurbanlah dan berdsarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majjah yaitu bagi orang yang mampu (kaya).

Sunah. Dasar yang dijadikan alasan qurban hukumnya sunnah adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Rasulullah bersabda : “Saya disuruh menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu”. (HR. Tirmidzi). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Daruquthni, Rasullah bersabda : “ Diwajibkan kepadaku berqurban dan tidak diwajibkan atas kamu”. (HR. Daruquthni). Dalam kedua hadits tersebut ada pernyataan yang menunjukkan tidak diwajibkan untuk berqurban akan tetapi sunnah hukumnya (Rasyid, dalam buku Fiqh Islam).

Implikasi Ibadah Qurban

Penyembelihan hewan qurban yang dilaksanakan setiap setahun sekali yaitu pada hari raya idul adha dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah) sebagai bentuk rasa syukur, ketaatan dan pengabdian kepada Allah yang semata mata ikhlas dilakukan untuk mengharap keridloan-Nya. Di iringi rasa ikhlas kemudian membagikan daging hasil pemotongan hewan tersebut kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Hal ini senantiasa bukan untuk mencari pujian dan sanjungan semata tetapi sebagai wujud kepedulian dan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Allah tidak melihat seberapa besar hewan atau berapa banyak daging yang qurbankan dan dibagi-bagikan, melainkan Allah melihat seberapa besar ketaqwaan kita kepada-Nya. Firman Allah dalam surat Al-Hajj (22): 37 yang artinya :”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridhoan) Allah, tetapi dari ketaqwaan kamulah yang dapat mencapanya”.

Dengan berqurban akan mengajarkan kita untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat yang kita rasakan dan mengajarkan kita untuk selalu berbagi kepada yang lain atas nikmat yang kita terima. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya :”Jika kamu bersyukur maka Aku tambahkan nikmat bagimu, dan Jika kamu ingkar sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”.

Sebagai akibat dari semua itu akan lahirlah rasa saling peduli dan saling memperhatikan antara sesama masyarakat khususnya sesama muslim, hilang kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin. Orang yang mampu (kaya) memberikan atas kelebihan rizqi berupa daging qurban sehingga orang yang kurang mampu bisa ikut mersakan nikmatnya atas rizqi yang mampu. Rasa saling peduli akan melahirkan kekuatan ukhuwah yang solid dan kuat, akan juga melahirkan rasa saling mencintai yang nantinya akan meninbulkan kesamaan persepsi yaitu rasa saling tolong menolong antar sesama. Sebagainama dijelaskan dalam hadits Nabi yang artinya :”Orang mukmin yang satu dengan yang lain adalah ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama yang lainnya”. Terciptanya komunitias yang kokoh dan kuat akan menjadi kekuatan yang tidak mudah dihancurkan oleh kekuatan musuh (yang akan menghancurkan agama). Disinilah nilai-nilai yang diharapakan terkandung dalam ibadah penyembelihan hewan qurban yaitu terciptanya jalinan ukhuwah dan silaturahim yang kokoh. Wallahu a’lam bi as-showab.

Referensi

Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap), Penerbit At-Thahiriyah, Jakarta, t.th, hal. 447-450.

Zuhdi Masjfuk, Masail Fiqhiyah (Kapita Selekta Hukum Islam), Gunung Agung, Jakarta, 1997.

Tablig Akbar dan Pembacaan Maulid Simthud Duror

setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa dan kita menjalankan ibadah ritual untuk membentuk diri kita menjadi insan berkualitas yang memiliki kemuliaan denagn derajat muttaqin. dalam kesempatan yang mulia ini kami mengajak kaum muslimin untuk senantiasa meningkatkan ketqwaan dan keimana yang kita bina selama bulan ramadahan.

dalam rangka mumupuk dan menjaga agar keimana kita tetap berkualitas kami mengajak untuk intuk ikut meramaikan acara tabligh akbar dan pembacaan maulid simthud duror yang diselenggaragkan oleh Jamiyah Sumeleh Petarukan Pemalang yang bekerja sama dengan Jamiyah Maulid Simthud Duror Cabang Pemalang. kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menigkatkan ketaqwaan kita dan dalam upaya mengeratkan tali ukhuwah antara sesam umat muslim.

dengan segala rahmat dan ridho illahi, semoga kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang dicita-citakan. amin

panitia Penyelenggara

Jam’iyah SUMELEH Kendalrejo Petarukan Pemalang

Traveller Cheque – TC

Nama : M. Miftakhudin

NIM : 06.23.094

Prody : Keuangan dan Perbankan Syariah

MK : Lalu Lintas Pembayaran D/LN

Travellers Cheque Valas (Cek Perjalanan/turis)

Pendahuluan

Perkembangan dunia usaha membuat semakin mudahnya pelaku usaha untuk melakukan transaksi. Dengan dukungan teknologi yang semakin canggih menjadikan beberapa jenis transaksi dalam lalu lintas pembayaran dapat dilakukan dengan cepat dan seketika. Dalam dunia perbankan misalnya, untuk mempermudah dalam berbagai transaksi khususnya dalam lalu lintas pembayaran pihak perbankan banyak menyediakan fasilitas seperti transfer, kliring, inkaso/collection. Fasilitas tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan warkat-warkat (Cek/Bilyet Giro, Bank Draft, wesel, dan warkat-warkat lain).

Dewasa ini telah muncul bentuk-bentuk Cek jenis khusus sebagai derivasi baru seperti Traveler’s check, Cashier’s check, Cek Deviden, yang beberapa diantaranya memiliki pengaturan yang berbeda dengan yang dipersyaratkan dalam KUHD, misalnya tidak mengenal waktu kadaluarsa. Terkait dengan hal tersebut, cek yang tidak mengikuti KUHD harus dipertimbangkan penggunaan istilahnya selain Cek. Sesuai dengan Pasal 183 ayat (3) KUHD : Cek dapat diterbitkan atas penerbitnya sendiri (Cek Kasir atau Cek Perjalanan) sepanjang ketentuannya sesuai dengan KUHD.

Salah satu jenis cek yang dapat digunakan dalam transaksi lalu lintas pembayaran adalah Traveller Cheque baik dalam rupiah atau valuta asing. Penerbitan cek ini dilakukan perbankan tidak lain adalah untuk memberikan kemudahan atau sebagai fasilitas dan bentuk servis guna memberikan layanan terbaik bagi para nasabahnya khususnya yang sedang melakukan perjalanan.

Tidak jarang pula nasabah yang memanfaatkan jasa tersebut. Dengan dalih keamanan dan kenyamanan dalam melakukan perjalanan, maka yang menjadi salah satu alternaitf yaitu dengan memanfaatkan jasa berupa travel cek (TC). Selain aman dan nyaman TC dinilai lebih praktis ketimbang membawa uang tunai, apa lagi dengan jumlah nominal yang relatif besar.

Pengertian Traveller Cheque

Traveller Cheque in foreign currency issued by Bank or Non-Bank Financial Institution which can be disbursed in Bank or payment agent after the owner signed the cheque completely in front of the Bank or agent.[1]

Cek Perjalanan dalam valuta asing yang diterbitkan oleh Bank atau Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) yang dapat diuangkan di bank/ agen pembayar setelah pemilik menandatangani cek dengan lengkap di hadapan Bank/ Agen.

Cek perjalanan merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah bank, yang mengandung nilai, dimana bank penerbit (issuer) sanggup membayar sejumlah uang sebesar nilai nominalnya kepada orang yang tanda tangannya tertera ada cek perjalanan itu.[2] TC sering disebut juga dengan cek pelancong karena kebanyakan digunakan oleh orang-orang yang sedang melancong atau bepergian.

Agen penjualan yaitu bank devisa mengajukan Travellers Cheque, setelah terbit Travellers Cheque menggunakan mata uang asing dakam setiap transaksi menggunakan (kurs) yang berupa Valuta Asing sebagai kurs perjalanan.

Jenis cek ini dapat dibeli dan ditukar kembali dengan mata uang yang kita inginkan dimana kita berada.[3]

Travellers Cheque Valas ini sendiri terbagi dua.[4] Pertama, cek perjalanan atas unjuk. Dengan cek ini, siapa pun pembawanya bisa langsung mencairkannya ke bank maupun yang ditunjuk.

Kedua, cek perjalanan atas nama. Cek ini yang mencantumkan nama Anda, sehingga hanya Anda yang bisa mencairkannya dengan menunjukkan kartu identitas dan tandatangan Anda.

Pada umumnya Traveller Cheque :

1. Diterbitkan oleh bank-bank terkemuka di dunia

2. Bank Devisa selaku Selling Agent dan’atau Paying Agent)

3. Dalam mata uang yang kuat (hard Currency) seperti : US Dollar, Poundsterling, Yen, Euro

4. Membayar biaya penginapan, restoran, belanja, tiket pesawat

5. Dapat ditukar dengan uang tunai, disimpan dalam rekening giro, dapat diwariskan.

Fitur Travellers Cheque Valas

  1. Tersedia di Cabang Devisa
  2. Pembayaran dananya dijamin oleh Issuer
  3. Tersedia dalam berbagai valuta dan nominal
  4. Dijual seharga nilai nominal (Face Value)
  5. Tidak ada batas kadaluwarsa
  6. Tersedia untuk nasabah pemegang rekening dan bukan pemegang rekening
  7. Dijual blanko atau bukan blanko

Contoh Travel Cek Valas yang dijual oleh bank di Indonesia adalah :

Cek perjalanan Bank Mandiri untuk valuta asing adalah TC American Express Travel Related Services Co, Inc. Tanpa batas kedaluwarsa, cek perjalanan ini bakal diganti kalau hilang dan tidak dapat dicairkan selain oleh pemilik langsung. Jenis TC yang dijual Bank Mandiri adalah TC American Express Travel Related Services Co, Inc. (Valuta USD, GBP, DEM, CHF, CAD, FFR, NLG, JPY).

BII juga punya cek perjalanan. Pecahannya, untuk rupiah mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 50 juta. Sementara, untuk cek perjalanan valas terbitan American Express Travel Related Services Co Inc bilangannya US$ 20 hingga US$500. Bank BNI punya cek perjalanan pula. Bank berlogo 46 ini menggandeng Citibank (Citicorp) dan Thomas Cook.

Manfaat Travellers Cheque Valas[5]

Praktis, Pengganti uang tunai dan dapat diterima/ diuangkan di hampir seluruh Bank/ Agen di seluruh dunia.

Aman, dikatakan aman karena :

1. TC yang hilang akan mendapatkan penggantian dari issuer.

2. Tidak dapat dicairkan selain oleh pemilik langsung.

Kegunaan TC Valas

1. Untuk keamanan uang dalam perjalanan. Misal perjalanan dinas, bisnis, perjalanan wisata dan lain-lain, apabila hilang dapat minta penggantinya di cabang di mana pemegang berada, TC tidak dapat dicairkan oleh orang lain kecuali pemilik;

2. Dapat digunakan sebagai alat bayar;

3. Dapat dicairkan tunai /non tunai (giral).

Cara memperoleh TC Valas

1. Menghubungi agen-agen;

2. Mengisi formulir sebagai bukti pembelian. Bukti pembelian harus disimpan, karena jika bukti hilang akan mendapat kesulitan memperoleh pengganti saat TC hilang atau dicuri;

Menyerahkan dana/pembelian

Pada saat menyerahkan/membeli, pembeli harus membubuhi tanda tangan dihadapan petugas bank atau money changer.

Syarat-syarat formal yang biasanya terdapat didalam suatu cek perjalanan adalah sebagai berikut,[6] :

· Nama Travels Cheque secara Tersendiri,

· Nilai nominal dari Travels Cheque,

· Nama bank yang mengeluarkan,

· Nomor seri dari tanggal pengeluaran cek perjalanan,

· Tanda tangan orang yang berpergian pada waktu pembelian TC tanda tangan pada waktu penguangan cek perjalanan,

· Perintah membayar tanpa syarat,

· Dapat dibayarkan sebagai alat pembayaran yang sah,

· Tanda tangan dari bank penerbit




[2]Budi Nugraha, “Travel Cek Aman dan Nyaman” http://www.suaramerdeka.com/, edisi 22 September 2008.

[3] Thomas Suyatno, Djuhaepah T Marala, Azhar Abdullah, dkk., Kelembagaan Perbankan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007, hlm 67.

[5] Thomas Suyatno, Djuhaepah T. Marala, Azhar Abdullah, dkk., Op.cit, hlm 68.

[6] Budi Nugaraha, Op.cit, edisi 22 September 2008.

Leter of Credit – L/C

FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL
NO: 57/DSN-MUI/V/2007
Tentang LETTER OF CREDIT (L/C)
DENGAN AKAD KAFALAH BIL UJRAH

Menimbang :
Mengingat :
Memperhatikan :
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : FATWA TENTANG KETENTUAN LETTER OF CREDIT (L/C) DENGAN
AKAD KAFALAH BIL UJRAH

Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan:

  1. Kafalah adalah akad penjaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu, ashil);
  2. L/C Akad Kafalah Bil Ujrah adalah transaksi perdagangan ekspor impor yang menggunakan jasa LKS berdasarkan akad Kafalah, dan atas jasa tersebut LKS memperoleh fee (ujrah)..

Kedua : Ketentuan Hukum

Transaksi L/C ekspor impor boleh menggunakan akad Kafalah bil Ujrah.
Ketiga : Ketentuan Akad

  1. Seluruh rukun dan syarat akad Kafalah Bil Ujrah dalam fatwa ini merujuk pada fatwa No.11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah.
  2. Penerapan akad Kafalah dalam transaksi L/C ekspor maupun impor merujuk kepada fatwa No.34/DSN-MUI/IX/2002 tentang Letter of Credit (L/C) Impor Syariah dan fatwa No.35/DSN-MUI/IX/2002 tentang Letter of Credit (L/C) Ekspor Syariah.

  1. Fee atas transaksi akad Kafalah harus disepakati dan dituangkan di dalam akad.

Keempat : Ketentuan Penutup

  1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah atau Pengadilan Agama setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
  2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 13 Jumadil Awal 1428 H / 30 Mei 2007 M

Baca entri selengkapnya »

KARTU PLASTIK

Kartu Kredit, Kartu Debet, Kartu Isi Ulang, Pilih Mana?

Artikel Kartu Plastik

Artikel yang Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Semester Genap Ganjil/2008

Oleh:

Hendriyadi

NIM 023070127

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta 200

FUNGSI uang kontan sebagai alat bayar semakin tergantikan dengan kartu plastik. Akibatnya, kartu-kartu plastik semakin mendominasi dompet masyarakat perkotaan selain kartu tanda penduduk. Cobalah tengok dompet kawan Anda. Selain kartu tanda penduduk atau kartu surat izin mengemudi, ada berapa kartu plastik di dalamnya? Umumnya, sebagian besar mengantongi kartu kredit, kartu ATM, atau kartu debet. Selain kartu ATM yang saat ini hampir dimiliki oleh setiap nasabah perbankan, kartu plastik jenis lain, yaitu kartu debet, juga semakin banyak digunakan. Belakangan ini, pertumbuhan kartu debet bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kartu kredit. Bank-bank semakin gencar memanjakan nasabahnya, tidak cukup hanya dengan kartu kredit atau kartu ATM, tetapi juga kartu ATM yang dapat berfungsi sebagai kartu debet. Berbelanja dengan kartu debet memang lebih praktis karena tak perlu membawa setumpuk uang kontan dengan risiko kecopetan. Tidak juga perlu takut terkena denda dan bunga jika lupa membayar tagihan seperti yang sering terjadi pada para pemegang kartu kredit yang kadang lalai membayar tagihannya. Selain itu, biaya administrasinya juga lebih murah dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memiliki kartu kredit. Secara global, volume transaksi kartu debet Visa, misalnya, telah melewati jumlah volume kartu kredit. Menurut data dari Visa, pada akhir tahun 2003, volume kartu debet Visa di dunia meningkat 17 persen daripada tahun sebelumnya dan mencapai 1,48 triliun dollar AS. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan sebesar lima persen dalam volume kartu kredit yang sebesar 1,45 triliun. Adapun di Indonesia sendiri pada kuartal pertama tahun 2004 penggunaan kartu debet Visa sebesar 30 juta dollar AS atau meningkat 107 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Sebenarnya tidak ada pergeseran penggunaan kartu kredit dengan kartu debet. Keduanya saling melengkapi. Di negara-negara maju, setiap orang memiliki kedua jenis kartu ini. Kalau kartu debet biasanya digunakan untuk membayar langsung pembelanjaan yang jumlahnya sedikit atau barang sehari-hari, sedangkan kartu kredit untuk pembelanjaan dalam jumlah besar, misalnya barang elektronik,” kata Country Manager Visa International Indonesia Ellyana C Fuad. Ia mengatakan lebih lanjut, pangsa pasar kartu debet sangat besar karena persyaratan yang diperlukan agar seseorang dapat memiliki kartu debet sangat mudah dan ringan, tidak diperlukan persyaratan yang rumit seperti kartu kredit. Dengan membuka rekening di bank, orang dapat memiliki kartu debet. Lagi pula, uang milik pemegang kartu telah tersedia sehingga bank tinggal mengurangi saja jika ada pembelian oleh si nasabah. “Di Indonesia, jumlah pemilik rekening bank sekitar 60 juta dan mereka memenuhi syarat untuk dapat memiliki kartu debet,” kata Ellyana lagi. Riset yang diadakan Visa di AS menyatakan adanya peningkatan penggunaan kartu debet. Dalam riset tersebut ditemukan 43 persen pelanggan memilih menggunakan kartu debet sebagai alat pembayaran dibandingkan dengan 30 persen yang memilih menggunakan kartu kredit dan 22 persen dengan uang tunai. Sementara itu, untuk pembelian 20-50 dollar AS sebanyak 45 persen responden memilih menggunakan kartu debet. Untuk pembelanjaan sebanyak 51-100 dollar AS, 41 persen responden juga memilih menggunakan kartu debet. Untuk pembelian di atas 100 dollar AS, 49 persen responden lebih memilih menggunakan kartu kredit untuk alat pembayarannya. Ellyana menambahkan, di Indonesia Visa International telah bekerja sama dengan tujuh bank untuk menerbitkan kartu debet. Dalam waktu dekat ini, jumlah bank itu akan bertambah, tetapi Ellyana belum mau mengungkapkan bank mana saja yang akan menerbitkan kartu debetnya. Dari sisi bank, seperti Bank Permata, pendapatan yang didapatkan dari penerbitan kartu debet ada beberapa jenis. Seperti pendapatan dari biaya administrasi kartu Permata Visa Electron secara bulanan, biaya bulanan e-Wallet, pendapatan interchange atau pendapatan biaya transaksi penggunaan kartu di merchant, serta fee di jaringan ATM plus. Tidak hanya kartu debet yang biasanya digesek setelah bertransaksi. Selain kartu kredit dan kartu debet, Bank Permata juga menerbitkan kartu prabayar sebagai pengganti uang tunai dan dapat digunakan sebagai kartu debet. Menurut Dian Soerarso GM Sales Distribution Channels and Liabilities Product dari Bank Permata mengatakan, jumlah pemegang kartu debet di Bank Permata sebanyak 600.000 dan lebih dari 100.000 merupakan pemegang kartu e-Wallet. Adapun pertumbuhannya diharapkan dapat mencapai 75 persen hingga 100 persen pada tahun 2004 ini. “E-Wallet ini dapat digunakan sebagai kartu debet dan dapat digunakan bertransaksi di ATM, termasuk transaksi pembayaran. Uniknya, pemegang kartu tak perlu membuka rekening di bank, cukup membeli kartu perdana. Saldo kartu dapat diatur sesuai dengan kebutuhan hingga maksimum Rp 5 juta,” katanya. Kartu isi ulang ini juga dapat menjadi hadiah yang menarik dan berguna. Dana yang mengendap di e-Wallet ini tidak diberikan bunga. TIDAK hanya perbankan konvensional yang memberikan layanan kartu-kartu plastik ini kepada para nasabahnya. Perbankan syariah pun telah mulai meluncurkan kartu plastik. Bank Internasional Indonesia (BII), misalnya, telah mengeluarkan kartu BII Syariah Card yang sesuai dengan prinsip ekonomi syariah yang universal. “Sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional, akad yang digunakan dalam penyelenggaraan BII Syariah Card adalah akad qordh dan kafalah,” kata Direktur Sumber Daya Manusia, Hukum dan Riset BII, Sukatmo Padmosukarso. Akad qordh merupakan prinsip utang piutang dan dalam prinsip syariah tak boleh dikenakan bunga atau denda atas utang tersebut, sedangkan kafalah merupakan prinsip perwakilan. Artinya, pada saat bertransaksi pemegang kartu bertindak mewakili bank untuk bertransaksi dengan merchant. Sukatmo menjelaskan lebih jauh, perbedaan dengan kartu kredit konvensional, kartu Syariah ini bebas bunga. “Penggunaannya seperti kartu kredit, tetapi tidak ada pembayaran minimum seperti kartu kredit. Begitu jatuh tempo, tagihan harus dilunasi seluruhnya, tidak boleh dicicil. Kartu ini juga tak boleh digunakan untuk membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan syariah seperti minuman keras,” ujarnya. Pertama kali, BII mengeluarkan BII Syariah Card Gold dan belakangan mengeluarkan lagi Platinumnya. BII Syariah Card telah mengacu pada fatwa MUI yang menyatakan, jangan sampai keberadaan kartu semacam ini mendorong konsumerisme. “Kami sengaja masuk ke segmen gold sehingga pemegang kartu BSC adalah orang yang betul-betul mampu memegang dan dapat menggunakannya secara bijaksana dan sekaligus sehingga tidak ada kredit macetnya,” lanjut Sukatmo. BII juga melebarkan produk kartunya menjadi platinum karena pangsa pasar platinum di perbankan syariah sangat luas. Indikatornya, menurut Sukatmo, adalah pengajian di kawasan elite, seperti Pondok Indah, Menteng, dan Kemang, tarawih di hotel berbintang lima, serta para jemaah haji ONH plus yang dianggap menjadi pangsa pasar potensial dari kartu kredit platinum. Lapisan masyarakat inilah yang dibidik menjadi nasabah pemegang kartu BII Syariah Card Platinum. Walaupun terbatas, segmen kartu platinum ini memiliki daya beli yang sangat tinggi daripada segmen kartu silver atau gold. Pagu kredit yang diberikan kepada para pemegang kartu platinum ini sekitar 40 persen dari pendapatan dengan kisaran pagu Rp 8 juta hingga Rp 50 juta. Ellyana mengatakan, memang pangsa pasar kartu kredit platinum memang sangat besar dan belum tergarap. “Saat ini pemegang kartu kredit platinum sekitar 20.000 dan pangsa pasarnya diperkirakan satu juta orang. Saat ini baru ada empat bank yang menerbitkan kartu platinum, yaitu Citibank, ANZ Panin, Mega, dan HSBC,” kata Ellyana. HSBC yang baru menerbitkan kartu platinumnya untuk nasabah kalangan terbatas menargetkan akan menjaring 5.000 pemegang kartu hingga akhir tahun ini. Untuk tahap pertama, HSBC hanya akan memberikan kartu platinum ini untuk nasabah terpilihnya. Barulah pada tahun 2005 kartu platinum ini dipasarkan secara lebih luas lagi. “Targetnya adalah nasabah yang memiliki penghasilan Rp 500 juta per tahun,” ujar Ichsan Tobing, Vice President Card Marketing HSBC. Dimulainya peluncuran kartu platinum ini tahun depan, menurut Ichsan, karena memerlukan persiapan yang lebih lanjut lagi. Sementara itu, Dina Sutadi, Assistant Vice President Corporate Communications Division Head Bank Niaga, juga menunjukkan optimismenya mengenai perkembangan kartu kredit. Bank Niaga menargetkan pertumbuhan kartu kreditnya 100 persen dibandingkan dengan tahun 2003. Pada semester pertama tahun 2004 ini, jumlah pemegang kartu kredit aktif Bank Niaga mencapai 130.000 orang dengan pangsa pasar di Indonesia sekitar lima persen. Sekarang tinggal sesuaikan dengan kebutuhan Anda, mau menggunakan kartu kredit atau kartu debet karena kedua jenis kartu ini dapat saling melengkapi.(anastasia joice). Update terakhir ( Jum’at, 21 December 2007 ) Uang Plastik, Electronic Fund Transfer, dan Kliring Elektronik Belakangan ini masyarakat perkotaan di Indonesia mulai terbiasa untuk menggunakan alat pembayaran non tunai untuk berbagai keperluan pembayaran, antara lain kartu kredit, kartu debet, kartu ATM dan kartu prabayar. Penggunaan kartu prabayar diyakini akan menjadi trend mekanisme pembayaran di masa mendatang, misalnya untuk membayar bahan bakar di pompa bensin, tiket tol, pembelian barang dan berbagai jasa-jasa lainnya. Kartu Plastik Semua proses aktivitas pembayaran melalui berbagai jenis alat pembayaran ini diproses oleh berbagai penyelenggara sistem pembayaran seperti bank dan nonbank. Institusi inilah yang nantinya menyelenggarakan jasa mulai proses pengiriman dana, kliring hingga settlement. Pemakaian kartu prabayar dalam mekanisme transaksi adalah bagian dari evolusi alat pembayaran dari uang tunai sampai ke bentuk-bentuk non-tunai. Misalnya alat pembayaran dalam bentuk kertas (paper based) seperti cek, wesel, bilyet giro hingga ke elektronik seperti kartu prabayar hingga ke wujud digital (digital cash). Jumlah kartu plastik (Kartu Kredit, ATM, Debit, dan pra bayar) di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, seperti yang dilaporkan oleh Bank Indonesia pada tabel di bawah ini. Sampai bulan Juli 2007 tercatat 54 bank yang menerbitkan kartu ATM dan 21 penerbit kartu kredit yang terdiri atas perbankan, lembaga selain bank dan unit usaha syariah bank. Jumlah bank yang menerbitkan kartu ATM sekaligus kartu debit tercatat sebanyak 37 bank. Sedangkan kartu prabayar baru diterbitkan hanya oleh dua nama penerbit yaitu Telekomunikasi Indonesia dan Telekomunikasi Selullar. Peredaran dan penggunaan kartu tersebut juga melibatkan empat prinsipal kartu kredit dan tiga perusahaan pengelola switching. Infrastuktur Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) pun semakin meningkat, yang meliputi terminal ATM, Merchant, EDC, dan Imprinter. Sejalan dengan perkembangan teknologi, instrumen pembayaran khususnya yang menggunakan kartu (APMK) juga tumbuh dengan pesat. Tidak saja dari volume dan nilai yang ditransaksikan namun juga dari fitur, jenis, fungsi serta berbagai fasilitas yang diberikan kepada pemegang kartu. Menurut Bank Indonesia (2007), jenis APMK yang ada saat ini meliputi Kartu Kredit, Kartu ATM dan Kartu ATM yang berfungsi sekaligus sebagai Kartu Debit (ATM+Debit). Volume transaksi jenis APMK tersebut pada triwulan II-2007 tercatat 298,65 juta atau meningkat 8,04% dibanding triwulan sebelumnya. Sedangkan dari sisi nilai mencapai Rp419,86 triliun, meningkat 19,68% dari triwulan sebelumnya. Peningkatan transaksi tersebut didominasi oleh jenis transaksi transfer dana pada kartu ATM dan ATM+Debit. Pada triwulan ini mucul pula jenis instrumen pembayaran baru yakni kartu prabayar. Kartu ini digunakan untuk jenis pembayaran yang bersifat kecil (micropayment), karena batasan nominal yang ada pada kartu tersebut adalah satu juta rupiah dan dapat diisi kembali setelah digunakan. Mengingat jenis kartu ini masih relatif baru, aktivitas transaksi yang tercatat masih sangat kecil, dimana volume transaksi tercatat 16,73 ribu dengan nilai transaksi Rp210,41 juta (Bank Indonesia, 2007). Angka-angka di atas menunjukkan bahwa peranan E-banking dalam meningkatkan layanan transaksi semakin meningkat. Peningkatan jumlah kartu plastik berserta jumlah dan nilai transaksinya merupakan salah satu indikator mulai tumbuhnya less-cash society atau masyarakat digital di Indonesia. Indikator tersebut terkait langsung dengan kegiatan transaksi yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri sesuai dengan sumber daya keuangannya yang tersimpan dalam atau dilewatkan melalui lembaga perbankan. Atau dengan kata lain, indikator tersebut merupakan hasil dari transaksi individual nasabah bank yang berada di sisi ”front end”. Bagaimana dengan transaksi antar lembaga sendiri yang dari kaca mata masyarakat- khususnya nasabah bank, merupakan layanan E-Banking yang berada di sisi ”back end”? Real Time Gross Settlement Sejak tahun 2000, Bank Indonesia memperkenalkan kepada stakeholder yakni perbankan nasional apa yang disebut real time gross settlement (RTGS). BI-RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi dan bersifat real time. Melalui mekanisme BI-RTGS ini rekening peserta dapat didebit dan dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Setidaknya ada tiga alasan pokok mengapa BI memakai settlement melalui RTGS. Alasan pertama, jika membuka kembali literatur dan merujuk hasil studi empiris, ada semacam kesadaran baru dari bank-bank sentral di seantero jagad ini untuk mengelola Large Value Transfer System (LVTS). Sistem BI-RTGS dapat mengurangi risiko sistemik. Yang dimaksud dengan risiko sistemik adalah risiko kegagalan salah satu peserta dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Kegagalan bayar ini akan membuat peserta bank lain juga ikut terancam. Bahkan dalam situasi ekstrem, gagal bayar ini berpotensi memicu kesulitan finansial yang lebih luas yang dapat mengancam stabilitas sistem pembayaran. Alasan kedua, melalui sistem RTGS dapat mengurangi timbulnya float yang diharapkan dapat menyokong efektifitas pengawasan perbankan. Pada sisi lain dengan pengelolaan likuiditas yang baik di sektor perbankan juga akan membantu efektifitas kebijakan moneter. Alasan ketiga, sistem RTGS membuka peluang integrasi dengan berbagai aplikasi sistem pembayaran. Sebut saja seperti pasar uang dan pasar modal yang menganut prinsip Delivery versus Payment (DVP) atau bisa juga melakukan transaksi secara cross border payment melalui Payment versus Payment (PVP). Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai melalui aplikasi sistem BI-RTGS, antara lain dengan BI-RTGS transfer dana antar peserta lebih cepat, efisien, andal dan aman. Selain itu setidaknya ada kepastian settlement dengan lebih segera. Sistem BI RTGS ini akan memperlihatkan informasi rekening peserta secara real time dan menyeluruh. Bagi peserta RTGS juga dituntut untuk disiplin dan profesional dalam mengelola likuiditas mereka. Dan diharapkan melalui sistem RTGS ini akan mengurangi berbagai risiko settlement. Saat ini aplikasi sistem BI-RTGS sudah berjalan di semua Kantor Bank Indonesia (KBI) di seluruh Indonesia. Sudah ada 148 peserta BI-RTGS yang terdiri atas 125 bank konvensional, 21 bank syariah/UUS dan dua peserta non-bank. Indonesia adalah negara kedelapan di Asia yang mengaplikasikan RTGS. Sedangkan di dunia baru ada 30 negara yang mengaplikasikannya. Jumlah dan nilai transaksi RTGS menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Bank Indonesia (2007) melaporkan bahwa komposisi nilai penyelesaian transaksi sistem pembayaran masih didominasi oleh sistem BI-RTGS. Selama triwulan II-2007 penyelesaian transaksi sistem BI-RTGS mencapai 93,09% dari total nilai transaksi, sementara melalui sistem kliring mencapai 3,15% dan sisanya melalui sistem yang dilaksanakan di luar Bank Indonesia. Penyelesaian transaksi melalui sistem RTGS dan kliring yang telah mencapai 96% tersebut dipandang telah mampu mendukung kestabilan sistem keuangan dalam memitigasi risiko gagal bayar transaksi sistem pembayaran. Dengan demikian, transaksi pembayaran di Indonesia yang belum ter-cover risikonya hanya sekitar 3,76%. Meski nilainya kecil, Bank Indonesia berusaha memitigasi risiko melalui penerapan rambu-rambu yang memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen. Kliring Elektronik Sebagaimana diketahui, sebelum settlement melalui RTGS diperkenalkan ke publik, ada settlement lain yang lazim dipakai yakni melalui sistem kliring. Metode yang dipakai sistem kliring berbeda jauh dengan RTGS. Sistem kliring menggunakan metode net settlement dalam rangka penyelesaian akhir. Net settlement adalah adalah proses penyelesaian akhir transaksi-transaksi pembayaran yang dilakukan pada akhir suatu periode dengan melakukan apa yang disebut off-setting antara kewajiban-kewajiban pembayaran dengan hak-hak penerimaan. Data terakhir transaksi kliring pada triwulan II-2007 mengalami sedikit kenaikan dibanding triwulan sebelumnya. Nilai transaksi selama triwulan laporan tercatat sebesar Rp 333,2 triliun, naik 1,1% dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar Rp329,6 triliun. Dari sisi volume juga mengalami kenaikan sebesar 2,72%, dari 19,3 juta transaksi menjadi 19,9 juta transaksi. Pada tahun 2007 ini Bank Indonesia telah memperluas implementasi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia di 18 wilayah kliring non Bank Indonesia. Dengan demikian, hingga akhir triwulan II-2007, wilayah yang telah mengimplementasikan SKNBI berjumlah 65 wilayah yang terdiri atas 37 wilayah KBI dan 28 wilayah non KBI. Nilai transaksi pemindahan dana yang bersifat “back end” dari sisi pespektif nasabah tersebut menunjukkan bahwa lalu lintas uang di Indonesia sudah bersifat paperless- dengan nilai transaksi yang secara drastis meningkat tajam. Sebagai contoh, nilai BI-RTGS meningkat lebih dari 1000 triliun rupiah dalam 12 bulan terakhir atau meningkat lebih dari 60 persen. Sedangkan transaksi kliring meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Transaksi digital dengan nilai yang sangat besar tersebut tentunya memerlukan teknologi tinggi yang handal dan teruji. Baca entri selengkapnya »

GIRO (DEMAND DEPOSIT)

GIRO (DEMAND DEPOSIT)

Oleh : M. Miftakhudin*

Pengertian

Giro adalah Simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan.

Menurut UU Perbankan No. 10 Tahun 1998, Giro adalah :

Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, saran perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. Pengertian dapat ditarik setiap saat adalah bahwa uang yang sudah disimpan di rekening giro dapt ditarik berkali-kali dalam sehari selama dana masih tercukupi, selain harus memenuhi syarat dari bank yang bersangkutan. Penarikan dapat berupa penarikan tunai atau non tunai.

Prinsip Prinsip Syariah

Dalam implementasinya bank yariah selalu berusaha menerapkan prinsip syariah dalam setiap transaksinya. Dalam produk pendanaan misal giro juga menggunakan prinsip syariah. Akad yang disgunakan dalam produk pendanaa giro yaitu Giro wadiah (amanah dan dhomanah), giro mudhorobah.

  1. Prinsip wadiah (Titipan)

wadaiah berarti titipan, atau sesuatu yang dititipakan baik berupa barang atau jasa. Dalam pengertian lain wadiah adalah titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan saat pemiliknya menghendaki (Syafii Antonio, 1999). Akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang (Bank Indonesia, 1999).

Prinsip wadiah ada dua macam yaitu wadiah ad-dhomanah dan wadiah al-amanah. Wadiah ad-dhomanah yaitu bank sebagai penerima titipan, namun bank boleh memanfaatkan dana tersebut dan bertanggungjawab atas barang/ dana tersebut. Berbeda dengan wadiah al-amanah dimana bank hanya mnerima titipan saja tanpa dapat memanfaatkan barang (dana) tersebut, bertanggungjawab atas keutuhan dana tersebut..

  1. Prisip mudhorobah

Dalam hal ini bank bertindak sebagai mudorib (pengelola) sedangkan nasabah sebagai pemilik dana (shohibul maal). Dalam aplikasinya bank mengelola dana tersebut dan keuntungan dari penggunaan dana tersebut yang nantinya akan dibagi sesuai dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati. Bank tidak bertanggungjawab atas kerugian yang disebabkan atas kelalaian namun karena terjadi kesaklahan manajemen bank.

Macam Macam Giro.

Berdasarkan Fatwa DSN No. 01/DSN-MUI/IV/2008,

  1. Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah, yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga.
  2. Giro yang dibenarkan secara syari’ah, yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.

Dalam perbankan giro menjadi produk funding dan financin. Dalam funding biasanya dalm bentuk produk dana yang menggunakan akad wadiah atau mudhorobah. Dalam financing biasa merupakan kewajiban bank terhadap Bank Indonesia dalam bentuk GWM, SWBI.

Giro wadiah

  1. Bersifat titipan
  2. Titipan bisa diambil kapan saja (on call).
  3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Giro mudhorobah

  1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
  2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
  3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
  4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
  5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
  6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Alat yang Digunakan dalam Penarikan Giro

Adalah alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas pembayaran giral, yaitu surat berharga atau surat dagang seperti :

  1. Cek (Cheque),

Cek merupakan surat perintah bayar tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak ang disebutkan di dalamnya atau kepada pemegang cek tersebut.

Syarat hukum dan penggunaan cek sebagai alat pembayaran giral :

a. Terdapat perkataan “CEK”

b. Harus berisi perintah tak bersyarat unutk membayar sejumlah uang tertentu

c. Nama bank yang harus membayar (tertarik)

d. Penyambutan tanggal dan temapt cek dikeluarkan

e. Tanda tangan penarik.

Syarat lainnya yang dapat ditetapkan oleh pihak bank, antara lain :

  1. Tersedianya dana
  2. Ada materai yang cukup
  3. Jika ada coretan harus di ttg oelh pemberi cek
  4. Jumlah uang tertulis di angka dan huruf harus sama
  5. Memperlihatkan masa kadaluarsa cek (70 hari)
  6. Tanda dan stempel perusahaan harus sama dengan contoh (specimen0
  7. Tidak diblokir pihak berwenan
  8. Resi cek sudah kembali
  9. Rndorsment cek sempurna
  10. Rekening belum ditutup
  1. Bilyet giro,

Bilyet Giro (BG) merupakan surat perintah bayar dari nasabah kepad abank yang memelihara rekening giro nasabah untuk memindahkan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank sama atau lain.

Bilyet Giro Adalah surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah (bank tertarik) untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau bank lain. Penggunaan bilyet giro tidak diatur dalam KUHD melainkan dalam SK No.28/32/KEP/DIR dan SE No.28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995 tentang Bilyet Giro. Adapun syarat formal bilyet giro menurut SK tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Nama ‘bilyet giro’ dan nomor bilyet giro yang bersangkutan
  2. Nama tertarik
  3. Perintah yang jelas tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atau beban rekening penarik
  4. Nama dan nomor rekening pemegang
  5. Nama bank penerima
  6. Jumlah dana yang dipindahbukukan baik dalam angka maupun dalam huruf selengkap-lengkapnya
  7. Tempat dan tanggal penarikan Tanda tangan, nama jelas dan atau dilengkapi dengan cap, stempel h. sesuai dengan persyaratan pembukuan rekening.

Pada dasarnya syarat sahnya suatu BG sama dengan CEK. Dan biasanya BG berlaku 70 hari mulai tanggal penarikan.

  1. wesel bank untuk trasfer atau wesel unjuk,
  2. bukti-bukti penerimaan transfer dari bank-bank,
  3. nota kredit, dan
  4. surat-surat lainnya yang disetujui oleh penyelenggara ( B I ).

Perbedaan Cek dan Giro

Keterangan Cek giro
Identitas Atas nama / untuk tunjuk Atas nama
Sifat Tunai Non tunai
Tanggal Hanya 1 Tanggal Ada 2 tanggal

Manfaat Giro

Bagi Bank

  1. Merupakan sumber pendanaan bank,
  2. Merupakan sumber pendpatan bank dari penggunaan jasa perbankan yang merupakan aktfitas penggunaan jasa giro (fee based income)

Bagi nasabah

  1. Memperancar pendanaan dan pembayaran (keperluan transakasi)
  2. Memperoleh bonus bagi hasil.

*Mahasiswa S1 STEI Hamfara Yogyakarta

TRANSFER RUPIAH

TRANSFER RUPIAH

Oleh : M. Miftakhudin*

Pengertian Transfer

Transfer adalah pemindahan dana antar rekening disuatu tempat ke tempat yang lain, baik untuk kepentingan nasabah (debitur/non debitur) dan atau untuk kepentingan Bank itu sendiri.[1] Pada prinsipnya adalah memindahkan sejumlah dana atas perintah pemberi amanat (nasabah/bank) untuk keuntungan penerima. Prinsip yang digunkan adalah prinsip wakalah, dimana bank menerima amanah dari nasabah untuk memindahkan dana kepada pihak penerima dan atas jasa tersebut bank memungut biaya.[2] Dalam hal ini transfer merupakan fasilitas yang diberikan oleh bank guna memberikan kemudahan transaksi bagi para nasabah.

Banyaknya aktifitas nasabah yang membutuhkan sebuah layanan yang dapat memanjakan dan memudahkan nasabah ini dimaksudkan untuk memperlancar dalam lalu lintas pembayaran. Setiap hari tercacat lebih dari 100 triliun transaksi dengan menggunakan fasilitas transfer baik kliring maupun melalui sistem BI-RTGS. Sesuai dengan UU No.7 tahun 1992 Tentang Perbankan pasal 1 menyebutkan bahwa selain melaksanakan kegiatan usaha bank juga memberikan jasa-jasa perbankan dalam lali lintas pembayaran. Maka untuk memenuhi dan memberikan kemudahan bagi nasabah, bank memberikan salah satu bentuk produk jasa perbankan yaitu transakasi yaitu melalui transfer. Keuntungan yang dapat diperoleh bank yaitu bank mengambil biaya atas transaksi tersebut atau fee.

Pentingnya menggunakan sistem pembayaran[3]

  1. a. Risk Reduction

Sistem pembayaran yang mampu meminimalkan risiko dan mendukungstabilitas sistem keuangan

  1. b. Efficiency

Sistem pembayaran yang memungkinkan pemrosesan transaksi secaramudah, cepat, akurat dengan biaya yang rendah.

  1. c. Safety (Robust System)

Sistem pembayaran yang padat dengan teknologi selalu mengujikeamanan dan keandalan sistem yang digunakan.

  1. d. Fairness

Sistem pembayaran yang dapat menjamin keseimbangan dalam pengambilan kebijakan sistem pembayaran, dalam penyelenggaraan sistem pembayaran, dan keseimbangan akses masyarakat banyak kepada sistem pembayaran.

  1. e. Consumer Protection

Sistem pembayaran memberikan perhatian yang seimbang antara kepentingan penyelenggara dan konsumen.

Proses transfer

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk melakukan proses transfer yaitu :[4]

  1. Pemindahbukuan

Yaitu proses transfer yang dilakukan antara dua rekening dalam satu bank yang sama.

  1. Melalui LLG (Lalu Lintas Giral)

Yaitu proses transfer dengan melalui fasilitas kliring di Bank Indonesia, yaitu dengan mendebitkan nota kredit kepada bank yang dituju. Nota kredit kemudian dikirim ke Bank Indoneia sebagai penyelenggara kliring.

  1. Dengan wesel

Hal ini sudah jarang dilakukanoleh perbankan, namun masih kita temui di kantor pos. biasanya wesel ini digunkan bagi nasabah yang tidak memiliki rekening. Bank menerbitkan wesel yang kemudin dikirim ke nasabah penerima, selanjutnya nasabah mengambil sejumlah uang di bank.

Proses transfer dapat melalui

  1. Bank Indonesia
  2. Bank lain
  3. Cabang sendiri

Gambar skema transfer.

Keterangan gambar :

  1. Nasabah (remitter)memberikan amanah kepada bank.
  2. Bank (remitting bank )mengkliringkan nota.
  3. Bank Indonesia mengkredit rekening bank penerima.
  4. Bank (beneficiary bank) mengkredit rekening penerima. Yang selanjutnya bank menyampaikan sejumlah dana kepada nasabah penerima.

Pihak-pihak yang terkait dengan transfer :

  1. Remiter/Applicant, yaitu pemilik dana (pengirim) yang akan memindahkan dananya melalui jasa pengiriman uang.
  2. Beneficiary, yaitu pihak akhir yang akan berhak menerima dana transfer dari drawee bank atau paying bank.
  3. Remiting Bank/ Drawer Bank, yaitu bank pelaku transfer atau bank yang menerima amanat dari nasabah untuk di transfer kepada drawee atau bank tertarik yang kemudian diserahkan kepada penerima dana (beneficiary).
  4. Paying Bank/Drawee Bank, yaitu bank yang menerima transfer masuk dari drawer bank untuk di teruskan / dibayarkan kepada beneficiar.

Keuntungan yang diperoleh

  • Memberikan kemudahan dalam transaksi pengiriman uang /pembayaran dalam mata uang rupiah dengan biaya yang kompetitif.
  • Aman dan cepat

Ketentuan Umum

  • Dilayani di seluruh kantor cabang Bank
  • Dapat dilaksanakan oleh nasabah atau bukan nasabah.
  • Transfer dapat dilaksanakan atas dasar amanat berulang (standing instruction).
  • Penerima transfer adalah pemegang rekening, rekening Bank lain atau diambil tunai.

Jenis Transfer

Dalam transfer ada kalanya bank menerima dana dari bank lain kadang pula bank mengeluarkan sejumlah dana untuk dibayarkan pada pihak lain. Berdasarkan aliran dana, ada dua jenis transfer :

  1. Transfer masuk

Yaitu bank menerima amanat dari salah satu cabang untuk  membayar sejumlah uang kepada seseorang beneficiary. Dalam hal ini bank pembayar akan membukukan hasil transfer kepada rekening nasabah beneficiary bila ia memiliki rekening di bank pembayar. Transfer masuk tidak dikenakan lagi komisi karena si nasabah pemberi amanat telah dibebankan sejumlah komisi pada saat memberikan amanat transfer.

Pembatalan transfer masuk.

Jika terjadi pembatalan, pertama – tama yang harus dilakukan adalah memeriksa apakah hasil transfer telah dibayarkan kepada beneficiary. Bila ternyata belum, akan diblokir dan dibatalkan untuk kemudian dikembalikan kepada cabang pemberi amanat melalui pemindahbukuan.

  1. Transfer keluar

Yaitu ketika bank menerima amanah langsung dari nasabah untuk membayarkan sejumlah dana kepada pihak (penerima) di cabang lain.

Salah satu jenis pengiriman uang yang dapat menyederhanakan lalu lintas pembayaran adalah dengan pengiriman uang keluar. Media untuk melakukan transfer ini adalah secara tertulis ataupun melalui kawat.

Pembatalan transfer keluar

Bila terjadi pembatalan transfer, haruslah diperhatikan bahwa pembatalan tersebut hanya dapat dilakukan bila transfer keluar belum dibayarkan kepada si penerima uang dan untuk itu bank pemberi amanat harus memberi perintah berupa “stop payment” kepada cabang pembayaran. Pembayaran pembatalan ini baru dapat dilakukan oleh bank pemberi amanat kepada nasabah pemberi amanat hanya apabila telah diterima berita konfirmasi dari bank pembayar bahwa memang transfer dimaksud belum dibayarkan.

Apabila transfer ke luar kota, yaitu ketika bank penerima berada diluar wilayah kliring bank, proses transfer dapat dilakukan dengan memanfaatkan bank pengirim atau memanfaatkan jasa bank tujuan (penerima).[5]

Kliring, adalah layanan transfer antarbank skala nasional dimana jangka waktu penerimaan dana sesuai dengan ketentuan kliring Bank Indonesia.

RTGS, adalah layanan transfer antarbank skala nasional dimana dana efektif diterima di bank tujuan dalam hitungan menit, selama transaksi dilakukan sebelum batas waktu.

*) Mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta Jurusan Keuangan dan Perbankan Syariah


[1] Lihat di http://www.bankmandiri.co.id/artikel/.

[2] Sunarto zulkifli, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah, Zikrul Hakim, Jakarta, 2003, hal 119.

[3] Bank Indonesia, ”Fungsi & Peran Bank Sentral dalam Sistem Pemabayaran”, disampaikan dalam Seminar dan Temu Wicara yang diselenggarakan oleh Direktorat Akuntansi dan Sistem Pemabayaran Bank Indonesia di Banda Aceh 26-28 november 2008.

[4] Sunarto Zulkifli, op.cit, hal 120.

[5] Ibid, hal 121.

REAL TIME GROSS SETTLEMENT (BI-RTGS)

Oleh : M. Miftakhudin*

A.    Pengertian BI-RTGS
“Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement, yang selanjutnya disebut Sistem BI-RTGS, adalah suatu sistem transfer dana elektronik antar peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual”. Sistem BI-RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi (individually processed / gross settlement) dan bersifat real time (electronically processed), dimana rekening peserta dapat didebit/dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran.
Setidaknya ada tiga alasan pokok mengapa BI memakai settlement melalui RTGS. Alasan pertama, jika membuka kembali literatur dan merujuk hasil studi empiris, ada semacam kesadaran baru dari bank-bank sentral di seantero jagad ini untuk mengelola Large Value Transfer System (LVTS). Sistem BI-RTGS dapat mengurangi risiko sistemik. Yang dimaksud dengan risiko sistemik adalah risiko kegagalan salah satu peserta dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Kegagalan bayar ini akan membuat peserta bank lain juga ikut terancam. Bahkan dalam situasi ekstrem, gagal bayar ini berpotensi memicu kesulitan finansial yang lebih luas yang dapat mengancam stabilitas sistem pembayaran.

B.    Penyelenggara BI-RTGS
Penyelenggara sistem BI-RTGS dalam hal ini adalah Bank Indonesia selaku bank sentral.

C.    Tujuan BI-RTGS
1.    Menyediakan sarana transfer dana antar peserta yang lebih cepat, efisien, andal dan aman.
2.    Kepastian settlement dapat diperoleh dengan lebih segera (irrevocable dan unconditional).
3.    Menyediakan informasi rekening peserta secara real time dan menyeluruh.
4.    Meningkatkan disiplin dan profesionalisme peserta dalam mengelola likuiditasnya.
5.    Mengurangi risiko-risiko settlement.

D.    Manfaat BI-RTGS
1.    Pengiriman transfer dana lebih aman, dengan jaminan keamanan sistem penyelenggaraan.
2.    Pengiriman transfer dana lebih cepat dengan jaminan dapat diterima oleh nasabah penerima pada hari yang sama.

E.    Mekanisme Settlement
Mekanisme penyelesaian transaksi antar bank saat ini terdapat dua mekanisme yaitu melalui sistem kliring dan BI_RTGS. Sistem kliring menggunakan metode net settlement yaitu proses penyelsaian akhir transaksi-transaksi pembayaran yang dilakukan pada akhir priode dengan melakukan offsetting antara kewajiban-kewajiban pembayaran dengan hak-hak penerimaan sehingga hanya ada 1 net hak atau kewajiban yang akan disettle untuk masing-masing rekening bank.. BI-RTGS menggunakan sistem gross settlement yaitu setiap transaksi diperhitungkan secara individual.
Dalam transaksi tersebut antara sistem kliring dan sistem BI-RTGS juga memiliki perbedaan dalam nominal. Jumlah nominal yang kurang dari Rp.100.000.000 maka transaksi tersebut melelui sistem kliring, untuk transaksi yang lebih dari Rp.100.000.000 maka melalui sistem BI-RTGS.
Secara umum mekanisme transaksi transfer dana antara peserta BI-RTGS adalah :
1.    Peserta pengirim menginput credit transfer ke dalam terminal RTGS (RT) untuk selanjutnya ditransmisikan ke RCC di Bank Indonesia.
2.    Selanjutnya, RCC memproses credit transfer dengan mekanisme sebagai berikut :
a.    Mengecek kecukupan saldo apakah saldo rekening giro peserta pengirim lebih besar dari atau sama dengan nilai nominal credit transfer.
b.    Jika saldo rekening giro peserta pengirim mencukupi akan dilakukan posting secara simultan pada rekening giro peserta pengirim dan rekening giro peserta penerima.
c.    Jika saldo rekening giro peserta pengirim tidak mencukupi, credit transfer tersebut akan ditempatkan dalam antrian (queue) sistem BI-RTGS.
3.    Informasi credit transfer yang telah diselesaikan (settled) akan ditransmisikan secara otomatis oleh RCC ke RT peserta pengirim dan RT peserta penerima.

Gambar 1.
Mekanisme Transfer Dana Melalui BI-RTGS
Bank Indonesia
Bank Pengirim
Nasabah Pengirim
Bank Penerima
Nasabah Penerima
Level Bank
Level Nasabah

F.    Peserta BI-RTGS
Peserta sistem BI-RTGS adalah seluruh bank yang dikelompokan dalam peserta langsung dan peserta tidak langsung. Peserta lansung adalah peserta yang dapat secara lansung melakukan transaksi dengan menggunakan sistem milik bank peserta sendiri. Peserta tidak langsung tidak dapat melakukan transaksi melalui sistem RTGS milik peserta melainkan melalui RTGS milik Bank Indonesia.
Status peserta BI-RTGS :
a.    Peserta aktif
Yaitu pesrta yang dapat mengirim keluar, menerima masuk dan melakukan seluruh fungsi lainnya dalam RTGS Terminal.
b.    Peserta ditangguhkan
Yaitu peserta yang dapat menerima transfer masuk, melakukan seluruh fungsi laian dalam RTGS Terminal namun tidak dapat mengirim transfer keluar. Hal biasanya disebabkan karena saldo rekening tidak mencukupi sampai dengan cut off time, adanya permintaan tertulis dari pihak yang berwenang dalam melakukan pengawasan peserta.
c.    Peserta dibekukan
Yaitu peserta yang tidak dapat mengirim transfer keluar dan tidak dapat menerima namun dapat melakukan fasilitas enquiry. Salah satu penyebabnya adalah adanya permintaan dari pihak yang berwenang dalam pengawasan peserta.
d.    Peserta ditutup
Peserta yang tidak dapat melakukan transaksi, seluruh transaksi ditolak oleh RCC. Karena permintaan dari pihak berwenang dan keputusan merger, akuisisi, konsolidasi atau pencabutan izin usaha Bank.

G.    Resiko-Resiko Sistem Pembayaran
Dari sisi pengelolaan risiko dalam penyelenggaraan kliring yang bersifat multilateral netting, saat ini belum ada suatu mekanisme untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan peserta dalam memenuhi kewajibannya pada penyelesaian akhir atas hasil kliring.
Secara umum terdapat dua jenis risiko dalam sistem pembayaran yakni risiko kredit dan risiko likuiditas. Risiko kredit adalah risiko dimana counterparty tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar secara penuh baik pada saat jatuh tempo maupun pada saat sesudahnya. Termasuk dalam kategori risiko ini adalah unrealized gains atas kontrak-kontrak yang gagal dilaksanakan (replacement cost risk) dan yang lebih parah lagi adalah risiko tidak terbayarnya suatu transaksi secara keseluruhan (principal risk). Sedangkan risiko likuiditas adalah risiko dimana counterparty tidak mampu membayar secara keseluruhan pada saat jatuh tempo melainkan membayar sesudah jatuh tempo. Hal ini tentu akan dapat menimbulkan kesulitas likuiditas bagi peserta penerima yang pada gilirannya nanti mungkin akan meningkatkan cost of fund dari peserta karena harus mencari dari money market dengan cepat.
Selaku Bank penyelenggara, Indonesia harus mengawasi jalannya sistem BI-RTGS untuk mengantisipasi adanya resiko sebagaimana tersebut di atas. Bank Indonesia juga harus konsen terhadap Systemic risk yang mungkin terjadi dalam lalu lintas pembayaran. Systemic risk adalah risiko kegagalan salah satu peserta dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo sehingga menyebabkan peserta lain juga mengalami kesulitan likuiditas yang pada gilirannya menjadi tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya.karena dikhawatirkan hal tersebuit dapat memicu kesulitas finansial yang dapat menggangu dalam lalu lintas pembayaran.
Sebagai akhir yang diharapkan dari adanya sistem BI-RTGS ini yaitu
1.    dengan adanya BI-RTGS diharapakan resiko-resiko dapat diminimalisir, dengan adanya kemampuan  melakukan transfer secara real time diharapakan mampu mengurangi resiko dalam proses settlement karena trnsaksi dilaksanakan apibila jumlah saldo mencukupi.
2.    Dengan adanya BI-RTGS diharapakan mampu mencukupi kebutuhan pihak yang dengan tersedianya mekanisme pembyaran yang relatif sangat cepat. Biasanya hal ini sangat dibutuhkan untuk transaksi jual beli saham/skuritas.
3.    Dengan implementasi BI-RTGS diharapkan mampu mengurangi systemic risk. Resiko ini dapat dikurangi dengan toiga cara: Pertama, penurunan secara signifikan intraday interbank exposure akan dapat mengurangi kemungkinan ketidakmampuan suatu peserta dalam menutup kerugian atau menutup kekurangan likuiditas karena peserta lain tidak mampu memenuhi kewajibannya. Kedua, sistem BIRTGS akan dapat mencegah kemungkinan terjadinya unwinding payment yang dapat merupakan penyebab terjadinya systemic risk dalam net settlement. Ketiga, karena peserta dapat melakukan settlement setiap saat selama window time, maka waktu settlement tidak lagi hanya terfokus pada suatu waktu tertentu saja. Hal ini akan memberikan waktu yang cukup bagi peserta untuk menyelesaikan kesulitan likuiditasnya dengan cara meminjam dari peserta lain atau menunggu incoming transfer dari peserta lain.

*Mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta Jurusan Keuangan dan Perbankan Syariah

« Older entries